MPR RI dan Universitas Terbuka menjalin nota kesepahaman tentang empat pilar sosialisasi

Home / MPR RI / MPR RI dan Universitas Terbuka menjalin nota kesepahaman tentang empat pilar sosialisasi

TRIBUNNEWS.COM-Bambang Soesatyo, juru bicara Konferensi Permusyawaratan Rakyat Indonesia, menegaskan tantangan terbesar bangsa Indonesia tidak sebatas pembangunan infrastruktur fisik untuk membangun konektivitas kawasan. Namun, hal itu juga memperkuat konektivitas dalam ikatan negara.

Setidaknya ada tiga prioritas yang harus diperhatikan, yaitu melaksanakan pembangunan yang berkeadilan, mengembangkan sumber daya manusia (SDM), dan mengembangkan visi nasional. — – “Perguruan tinggi merupakan mitra penting MPR RI dalam upaya penguatan sumber daya manusia (SDM). Talenta-talenta ini pintar tidak hanya secara akademis tetapi juga berwawasan kebangsaan. Atas dasar itulah MPR RI dan Universitas Terbuka Menandatangani nota kesepahaman. Dalam rangka mensosialisasikan empat pilar MPR RI, pembangunan visi negara tidaklah wajar. “Proses yang sedang berjalan harus ditanamkan, dipelihara, dan diurus agar bisa terus berkembang,” kata Bamsoet usai penandatanganan nota kesepahaman. Sosialisasi Empat Pilar Musyawarah Indonesia (MPR RI) ini sebenarnya dilakukan oleh tim sivitas akademika Universitas Terbuka Ketua MPR RI, Jakarta, Jumat (28/8/20) .

Jabatan presiden universitas juga hadir dalam pertemuan tersebut. Dr. Sofjan Aripin di bidang hukum, ilmu sosial dan politik, dosen di Universitas Terbuka Sjaiful Mifdar, dan ketua Profesor Maximus Gorky Sembiring.

Mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia percaya bahwa hal itu menyediakan platform pembelajaran jarak jauh Keberadaan Open University of China terkait erat dengan peningkatan pemerataan kesempatan pendidikan tinggi bagi masyarakat di berbagai wilayah.

Tingkat penetrasi internet mencapai 64%, menunjukkan bahwa 171,9 juta orang di 268,6 juta penduduk Indonesia memiliki akses Internet. Online ( Online) untuk mendorong penerapan sistem pendidikan jarak jauh dan sosialisasi empat pilar Musyawarah Rakyat Indonesia (MPR).

“Kami tidak ingin menghadapi berbagai masalah terkait rendahnya kualitas SDM. Situasi yang terjadi tahun lalu akan terulang di tahun-tahun mendatang. Hal ini misalnya ditunjukkan dalam survei program, International Student Assessment (PISA) 2019 menempatkan keterampilan membaca, matematika, dan sains siswa Indonesia di Bansut, dengan mengatakan: “Dari 77 negara, ada 72 negara Di China, 7 juta lulusan SMP yang terpaksa bekerja tidak bisa melanjutkan pendidikan tinggi, ”Wakil Ketua Federasi Industri dan Perdagangan Indonesia ini juga mencontohkan bahwa pembangunan belum sepenuhnya terealisasi, sehingga menjadi beban interkoneksi nasional. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) dapat diketahui bahwa pada tahun 2019 sebagian besar kontribusinya terhadap PDRB (sekitar 80,32%) masih berasal dari wilayah barat yaitu sekitar 59% di Jawa dan 21,3% di Sumatera. Kebijakan pendukung lainnya, seperti land reform dan penciptaan lapangan kerja melalui UMKM. Dalam membentuk jiwa kewirausahaan mahasiswa, kampus tidak bisa ditinggalkan. Dengan begitu, jika kelak mereka lulus, mereka tidak hanya menjadi tenaga kerja yang handal, tapi juga bisa menciptakan lapangan kerja, ”tutup Bamsoet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

adu ayam online_s128.net_s1288