Bamsoet: Untuk menangani dugaan dumping, eksportir harus bekerja sama

Home / MPR RI / Bamsoet: Untuk menangani dugaan dumping, eksportir harus bekerja sama

Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Bambang Soesatyo, Ketua Konferensi Permusyawaratan Rakyat Indonesia, mendesak eksportir dalam negeri berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan untuk segera menanggapi dugaan dumping dari sembilan negara mitra dagang Indonesia. Eksportir yang memiliki data harga rinci untuk setiap produk ekspor yang biasanya dituduh melakukan dumping bisa membantah tudingan tersebut.

” Untuk menjaga hubungan baik dan kerja sama perdagangan dengan sembilan negara mitra dagang, eksportir Indonesia tidak perlu menghadapinya. Tindakan segera adalah untuk terlibat dalam dialog dengan otoritas atau komite anti-dumping dari masing-masing sembilan negara. Dialog sangat diperlukan untuk mengklarifikasi masalah atau mengajukan pertanyaan berdasarkan dugaan dumping, ” kata Bamsoet di Jakarta, Rabu (10/6/20) – sembilan negara yang menuding Indonesia melakukan dumping dan safeguards (implementasi kebijakan keamanan) adalah Amerika Serikat, India, Ukraina, Vietnam, Turki, Uni Eropa, Filipina, Australia dan “Mesir”. Sembilan negara tersebut telah mengajukan 16 dakwaan terhadap ekspor Indonesia (termasuk MSG, baja, aluminium, kayu, benang, bahan kimia, kasur dan produk otomotif). Mantan pembicara Indonesia ini menegaskan, ketika dinamika ekonomi global yang hampir stagnan akibat pandemi Covid-19 saat ini, menjaga kerja sama ekonomi atau perdagangan dengan seluruh mitra nasional menjadi lebih penting dan strategis. Aspek positif dugaan dumping membuktikan masih banyak negara yang memiliki permintaan ekspor Indonesia.

” Aspek positif ini perlu ditangani. Apalagi ekspor dan investasi Indonesia diperkirakan mengalami pertumbuhan negatif selama pandemi Covid-19 global. Saya berharap eksportir dan Kementerian Perdagangan segera menghubungi komisi antidumping masing-masing dari sembilan negara tersebut. “Carilah data atau bukti sejauh mana ekspor Indonesia merugikan atau menghancurkan industri negara-negara tersebut,” kata Bamsoet. Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia menambahkan, kesembilan negara tersebut sebenarnya bisa mengambil langkah lain untuk mencegah masuknya produk ekspor yang diduga menurunkan harga. Diantaranya, akibat penerapan atau pemberlakuan bea masuk antidumping (BMAD), diduga harga produk impor dumping jauh lebih tinggi dari harga produk dalam negeri. Implementasi BMAD telah menjadi kesepakatan antar anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). -Namun, saya menduga bahwa hasil industri serupa di negara yang bersangkutan tidak dapat memenuhi kebutuhan pasar atau konsumen. Oleh karena itu, importir di negara-negara tersebut berusaha memenuhi permintaan dengan cara mengimpor produk dari Indonesia karena harganya yang kompetitif, ”tutup Bamsoet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

adu ayam online_s128.net_s1288