Indonesia terancam oleh resesi ekonomi, individu dengan kekayaan bersih yang tinggi meminta perlindungan sosial dalam bentuk uang tunai

Home / MPR RI / Indonesia terancam oleh resesi ekonomi, individu dengan kekayaan bersih yang tinggi meminta perlindungan sosial dalam bentuk uang tunai

TRIBUNNEWS.COM-Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua Konferensi Permusyawaratan Rakyat Indonesia (MPR), mengapresiasi prestasi Kemensos dalam bansos yang sudah mencapai 65%. Selain itu, agar masyarakat tidak menanggung beban yang semakin berat akibat resesi yang akan segera terjadi, masyarakat berpenghasilan tinggi meminta Kementerian Sosial untuk terus mempercepat penyaluran bantuan sosial, tidak hanya dalam bentuk sembako, tetapi terutama dalam bentuk uang tunai. Ini penting agar roda perekonomian bisa bertahan dari resesi.

Menurutnya, hal ini untuk mendorong konsumsi masyarakat mulai triwulan III hingga sisa bulan agar terhindar dari ancaman RI. Resesi dan dampak negatifnya yang terus berlanjut.

“Pada triwulan II tahun 2020, konsumsi masyarakat akan menyusut sebesar 5,51%, termasuk pengeluaran sehari-hari seperti makanan dan minuman. Pemerintah membutuhkan bantuan tunai langsung untuk meningkatkan daya beli. Perlu diperhatikan bahwa Kementerian Sosial harus terus meningkatkan penerima bansos terkait. Keakuratan datanya, dan mendapatkan hasil evaluasi penyaluran bantuan, sehingga masalah tidak terulang kembali di periode berikutnya, “Hidayat (VIII) menggelar rapat dengan Kementerian Sosial di Jakarta, Kamis (3/9). Kata setelah rapat kerja. — Hidayat memperkirakan hingga 3 September 2020, pencapaian 65% dari anggaran perlindungan sosial dalam Rencana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) cukup baik, namun harus terus didorong. Rencana tersebut dimaksudkan untuk didistribusikan sepanjang tahun, dan penting untuk meningkatkan capaian kuartal ketiga untuk mencegah Indonesia jatuh ke dalam resesi akibat segala dampak buruknya, karena jika memang terjadi resesi, selain dampak nyata pada penurunan emisi, dalam hal penyerapan tenaga kerja, Akan ada juga dampak psikologis, yang mengarah pada irasionalitas pasar, kepanikan dan memperberat penyebaran Covid-19.

Hidayat meminta Kementerian Sosial mengubah bantuan sembako menjadi bantuan tunai langsung. Memang, daerah yang mengalami penurunan konsumsi terkuat pada triwulan II adalah Jawa sebesar -6,69%. Dalam hal ini, bantuan sembako di Jabodetabek tidak akan terlalu efektif, karena tidak akan meningkatkan daya beli sehingga tidak menyisakan transaksi ekonomi di masyarakat. Bantuan tunai langsung juga diyakini lebih baik dalam melawan penyimpangan dan korupsi para pedagang nakal. Ini terkait dengan perputaran ibu kota dan impor dari luar Indonesia. Bantuan hanya bisa dikonversikan menjadi uang tunai untuk langsung meningkatkan kegiatan ekonomi masyarakat setempat, yang akan membawa manfaat ekonomi bagi warga dan memperkuat kohesi sosial di antara mereka. Ini juga akan menjadi pengobatan bagi COVID-19, ‚ÄĚkata Hidayat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

adu ayam online_s128.net_s1288