Bamsoet: Memasuki cara hidup baru membutuhkan perkembangan pemilu digital

Home / MPR RI / Bamsoet: Memasuki cara hidup baru membutuhkan perkembangan pemilu digital

Jakarta TRIBUNNEWS.COM-Bambang Soesatyo, Ketua Musyawarah Rakyat Indonesia, mengatakan semua bidang kehidupan perlu disesuaikan untuk memasuki gaya hidup baru atau normal baru. Bukan hanya di bidang kesehatan, sosial atau ekonomi. Ranah politik juga harus dilakukan dengan cara baru.

“Misalnya pemilihan umum atau pilkada. Sekarang saatnya Indonesia mengembangkan digitalisasi ketika pemilihan umum atau pilkada dilaksanakan. Pada awalnya bisa dimulai dengan pilkada dalam pemilihan presiden, khususnya untuk warga negara. Hak suara dihancurkan. Diperlukan digitalisasi barcode voting. Selain menghemat triliunan kotak suara, bilik suara, anggaran kertas dan tinta, masih efektif / tidak perlu menunggu Bamsoet menyelesaikan diskusi dengan wakil ketua Berkata: “Untuk memberikan suara sangat memakan waktu dan sangat intensif energi. Risalah rapat sudah diketahui hasilnya. Presiden MPR RI Fadel Muhammad berada di Press Room MPR RI di Jakarta, Senin (20/6). Mantan Presiden Republik Rakyat Demokratik itu menegaskan, meski hal itu tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat, setidaknya sejak saat itu. Perkembangan pemilu digital pun dimulai, sehingga ke depan Indonesia tidak hanya akan menjadi Demokrasi terbesar di dunia, tetapi juga demokrasi yang inovatif. -Karena pandemi Covid-19, Indonesia dan banyak negara lain terpaksa menunda fase pemilu. Inggris menunda pemilu. Pilkada yang harus diadakan.Pada Mei 2020, Italia menunda referendum pengurangan jumlah anggota parlemen pada 29 Maret 2020, Bolivia menunda pemilihan presiden hingga 3 Mei 2020, dan Indonesia menunda pemilihan 23 September 2020. Pemilihan Walikota / Bupati akan berlangsung hingga awal Desember 2020. Bencana alam, huru-hara, atau peristiwa lainnya tidak akan pernah mengganggu tahapan pemilu di masing-masing negara. Pandemi tersebut telah menghentikan tahapan pemilu, ”kata Bamsoet.

FKPPI, Kepala Kementerian Pertahanan Nasional, menambahkan bahwa pandemi Covid-19 tidak hanya menguji pelaksanaan pemilu, tetapi juga menguji kualitas keputusan kepemimpinan.Menurut catatan, 215 negara di seluruh dunia terjangkit Covid-19, dan beberapa pemimpinnya Sudah berhasil, ada yang masih berjuang, dan ada yang menjadi sasaran rakyatnya. Perdana Menteri Angela Merkel (Angela Merkel), Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardem (Jacinda Ardem), Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen (Mette Frederiksen), Presiden Taiwan Tsai Ing-Wen (Tsai Ing-Wen) ) Dan Perdana Menteri Islandia Katrin Jakobsdottir (Katrin Jakobsdottir) dianggap sebagai panutan untuk berhasil mengendalikan penyebaran virus Covid-19. Presiden Donald Trump dari Amerika Serikat, Presiden Bolsonaro di penjara Brasil, dan Presiden Andrés Manuel López Obrador dari Meksiko (Andrés Manuel López Obrador) menjadi warga negara sasaran mereka.

“Di saat yang sama, Presiden Joko Widodo dan para pemimpin Asia lainnya masih berkutat menghadapi pandemi Covid-19. Sejauh ini, hasilnya memuaskan, dengan swab harian. Cakupan pengujian terus meningkat, mencapai 10.000 sampel, “meningkat menjadi 30.000 spesimen per hari,” kata Bamsoet.

Wapres Pemuda Pancasila mengatakan, bukan hanya pemimpin nasional yang bertindak sebagai pengambil keputusan menteri Orang-orang juga mendapat banyak perhatian karena, misalnya, Menteri Kesehatan Ekuador Catalina Andramuno Zeballos memilih mengundurkan diri ketika angka positif Covid-19 di negara itu mencapai 500 pada 21 Maret 2020.

“Karena dia diyakini berhasil mengendalikan Covid-19 menyebar di Tokyo, dan Yuriko Koike terpilih kembali hari ini. Menjadi Gubernur Tokyo. Dia menjadi wanita pertama yang memerintah Tokyo untuk dua periode. Ini menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 tidak hanya menguji kualitas kepemimpinan negara di tingkat nasional, tetapi juga di tingkat lokal, ”tutup Bamsoet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

adu ayam online_s128.net_s1288