Pemberitahuan Kantor Kejaksaan tentang karaoke untuk prostitusi telah diserahkan kepada Jaksa Penuntut

Home / Metropolitan / Pemberitahuan Kantor Kejaksaan tentang karaoke untuk prostitusi telah diserahkan kepada Jaksa Penuntut

Wartawan Tribunnews.com mengabarkan Igman Ibrahim Jakarta TRIBUNNEWS.COM-Biro Pidana Umum Bareskrim Polri melaporkan pelaksanaan Karaoke Tangerang Selatan (TPANG) kasus pedagang BSD Venesia sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Agung (JPU). Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Pol Ferdy Sambo mengatakan, kasus tersebut sudah dilimpahkan ke kejaksaan sejak 2 September 2020.

“Kasusnya sudah dilimpahkan pada Rabu, 2 September 2020,” kata brigadir jenderal. Ferdy Sambo dihubungi pada hari Jumat. (11/09/2020) Selain itu, Ferdy mengatakan, kasus tersebut sedang dalam pemeriksaan kejaksaan. Jika dokumen dinyatakan lengkap (P21), perkara tersebut akan dibawa ke pengadilan.

“Saat ini, dokumen tersebut masih dalam tahap pertama.” Katanya.

Baca: Penggerebekan Karaoke BSD Venice, Polisi Cari Alat Kontrasepsi Sebelum Perempuan Absen dari Artis

Bacaan: Diserang Bareskrim, Karaoke Venice BSD Telah Mematikan Lampu untuk Menutupi Aktivitas

Seperti diberitakan sebelumnya, Biro Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri menyerang perusahaan hiburan Karaoke Executive Venice BSD pada Rabu malam (19/8/2020) di Jalan Lengkong, Serpong, Nantangerang, Banten .

Dalam kasus ini, pihaknya menetapkan enam orang sebagai tersangka perdagangan manusia atau prostitusi di Karaoke BSD Venice, Tangerang Selatan. -Kriminal Brigjen Pol Feidi Sambo mengatakan, keenam tersangka berasal dari tiga mucikari dan tiga pimpinan bisnis. – “Ya, tiga germo atau tiga germo dan tiga pelaku usaha (mencurigakan, red),” kata Sambo saat dihubungi, Jumat (21 Agustus 2020).

Namun, pihaknya masih mempelajari insiden tersebut secara mendalam. Di sisi lain, 47 perempuan yang ditangkap di sana kini sudah dilimpahkan ke Biro Kesejahteraan Sosial dan Reintegrasi (BRSW). -Dia menyimpulkan: “47 LC (panduan lagu, catatan editor) telah dikirim ke BRSW.” Dalam operasinya, perusahaan karaoke mengenakan biaya minimal 1,1 juta rupee untuk wanita yang menyediakan layanan seksual.

Dalam kasus ini, polisi mendapat 2 bungkus kuitansi, 1 bungkus sertifikat wanita, dan 730.000 buku wanita.Mulai 1 Agustus 2020, mereka membeli 3 mesin EDC.

Selain itu, pihaknya juga menerima 12 dus alat kontrasepsi Durex, 1 set kartu masuk wanita, 1 set produk partisipasi wanita, 3 komputer, aneka biaya, dan cetak hingga 14 kemeja kimono Jepang yang mengenakan kimono.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

adu ayam online_s128.net_s1288